HAFALAN SHALAT DELISA
Assalamualaikum….
Sejak beberapa bulan lalu Aku menunggu film ini. Awalnya kukira film akan diputar pada tanggal 26 Desember 2011 untuk mengenang terjadinya Tsunami Aceh, ternyata 22 Desember 2011 diputar tepat pada hari Ibu, “Alhamdulillah lebih cepat “ kataku.
Pada 06 April 2010 (waktu tamat baca novel Hafalan Sholat Delisa) masih terngiang konflik batin dan deru air mata akibat novel ini. Dari novel inilah Aku kenal Tere-Liye sebagai pengarang jempolan,top markotob,mumtaaz, jayyid jiddan, mantab yang kemudian mengantarkanku pada beberapa novel karangannya yang lain.
Gubahan film yang sederhana berdurasi 2,5 jam persembahan Sony Gaukasak yang disajikan ini ,tak kalah menariknya dengan ratusan lembar goresan pena Tere-Liye pada novelnya.
Film ini tetap menciptakan konflik batin yang sama dengan novel, membuatku menangis.
Delisa –bocah lugu, polos, cerdas, banyak tanya, agamis, tomboy, sederhana dan cantik – yang diperankan oleh Chantiq Schagerl sudah “sangat pas” dengan gambaran gadis Aceh itu, kurasa tidak jauh berbeda dengan imajinasi para pembaca.
Aktor “sangat pas” dengan karakternya (Ayah Delisa yang kuat, Ummi Delisa yang sabar, Ustadz Rahman yang hmmmm , Kak Sofie yang cantik dan kalem, Koh Acan yang lucu, Delisa yang polos, Kak Fatimah yang dewasa) pas banget deh.Cuma menurutku, pemeran Kak Aisyah sama Kak Zahra kok seperti seumuran dengan Delisa, malah pantas jadi adiknya.
Pada saat mendengar kabar novel ini akan di filmkan terbesit dibenakku, “Bagaimana ya nanti dengan adegan tsunaminya?”
Dalam film ternyata adegannya dibuat sekelumit saja. Bencana gempa dan air bah yang bergulung-gulung yang dibubuhi animasi yang bagus lalu dilanjutkan layar hitam beberapa detik “biiip-biiip” berselang dengan adegan muka Delisa nyemplung air “blebep-blebeb-blebep-blumph…” , kemudian para korban terdampar di batu karang.
Beberapa adegan yang membuat hati saya tersentak dan menangis adalah :
- Ketika Kak Aisyah menyatakan iri sama kalung D nya Delisa. Umminya bilang “Kak Aisyah jangan pernah iri dengan barang yang bukan milik kita”. #ini Kak Aisyah nangisnya bener-bener.
- Ketika Delisa bilang “Delisa Cinta Ummi Karena Alloh”, kalau mendengarnya dengan telinga terbuka sih biasa saja malah seperti dibuat-buat, tapi jika disertai dengan melihat kepolosan muka Delisa kala itu. #Deuh miris neng.
- Ayah Delisa, yang dalam hayalan membangun petak rumah Delisa yang sudah hancur setelah mendengar kabar Kematian ke-3 anaknya, “Abi bikinin rumah baru buat Delisa, ini kamar Ummi,ini kamar Delisa disini pintunya nanti Delisa tidur sama Abi” setelah itu menemukan foto Ummi yang masih tersisa diantara reruntuhan. #Sambil nyinyir ke Delisa disertai backsound “Lagu Ibu”, hiks,huhu,fufu,huaaaa.
- “Delisa benci, kenapa semua orang ninggalin Delisa!” #pas setelah main bola.
- Delisa ujian Sholat dengan khusuk sebelum terjadinya tsunami, sampai Delisa diterjang tsunami.
- Delisa bilang “Kaki Delisa satunya mana?” dan dijawab sendiri “Kaki delisa terbawa air”.#Setelah kaki Delisa diamputasi.
- Delisa membagi-bagi coklat kiriman dari Kak sofie – Relawan yang merawat Delisa ketika menjadi korban Tsunami – “Ini buat ustadz Rahman, Ini buat Ayah, Ini buat Koh Acan dst”.
- Delisa bilang “Delisa tidak mau hadiah apa-apa , Delisa Cuma ingin Sholat dengan benar dan ikhlas” #Setelah Tsunami, Ayah Delisa menawarkan hadiah jika Delisa lulus ujian Sholat kali kedua.
- Delisa Sholat dengan lancar ketika diuji ustadz Rahman, di lapangan terbuka. #Ending the movie
Dan beberapa adegan lagi dengan backsound Ala Aceh yang syahdu (pengen ke Aceh, kalau ke Mekkah belum bisa. Ya, kita ke serambinya dulu yuk, Aamiin).
Pesan moral yang Ku tangkap dari film ini sebagai berikut :
- Pelajaran Sholat dari kecil adalah sangat penting , kewajiban orang tua memberikan trigger karena ini termasuk pelajaran yang tidak mudah jika tidak terbiasa sejak kecil, apalagi diajarkan pada anak yang masih kecil.
- Belajar ikhlas dalam beribadah.
- Jadilah Ibu yang sabar, ayah yang kuat dan sayang keluarga.
- Tidak boleh iri sama siapapun, apalagi sama saudara sendiri.
- Sabar terhadap musibah dari Alloh.Belajarlah memasak meskipun laki-laki, kayak Koh Acan gitu, ga kayak Ayah Delisa.
- Dan jangan jadi anak nakal kayak Umam (teman Delisa yang ja’il )
Film ini sudah membuat mata bengap, jilbab basah (ga bawa tisu) dan jadi ga doyan Popcorn untuk pertama kalinya.
Buat yang belum nonton dan ingin cuci mata (nangis).Ayo, buruan tonton filmnya disini ya.Ini bukan sekedar tontonan tetapi juga sebagai tuntunan.
http://21cineplex.com/video/trailer/hafalan-shalat-delisa,2691.htm
Terakhir, terima kasih Oom Tere-Liye dan Crew film Hafalan Sholat Delisa (semoga diberi kesehatan sekeluarga agar bisa terus berkarya yang berbobot), ditunggu film-film dari novel-novel yang lain. #Berharap novel “Moga Bunda Disayang Alloh” dan “Bidadari-Bidadari Surga” difilmkan ju.
Terima kasih buat temanku Dini informasi quiznya, nanti kalungnya buat Dini #Kalau menang yaa, Aamiin.
Terima kasih commentnya






