little star

Ditengah hiruk pikuk pemikiran manusia, seorang hamba menapaki jalan menuju Robbnya.

Tentang Kepedulian


Love begins by taking care of the closest ones the ones at home” – Cinta dimulai dari adanya kepedulian pada orang terdekat dirumah.
“Apakah Anda benar-benar peduli terhadap dunia dan sekeliling Anda? Sebelum menjawabnya, pastikan Anda juga peduli kepada orang-orang terdekat Anda”.

Hidup di-Era persaingan yang kuat, tekanan dari segala arah, dan waktu yang singkat ini telah membuat diri kita lupa secara otomatis dengan lingkungan (alam dan masyarakatnya).
Contohnya : Apakah kita peduli ketika adik kita menangis? atau  ibu belum makan? kalau sudah apakah kitapeduli pada teman yang sedang sedih atau galau? teman yang tidak sholat padahal muslim? teman yang meminta bantuan kita?

Kalau kita sudah peduli, tentu contoh diatas hampir tidak ada.
Baiklah peduli terhadap diri sendiri itu penting sangat penting, tapi coba kita ukur kepedulian itu jangan melebihi tahap ego “Aku” atau mementingkan diri sendiri. Simaklah contoh cerita yang saya baca dari majalah Lion Air (yang menemani perjalanan ke Denpasar kemarin) sebagai berikut :

Ada sebuah keluarga terdiri dari ayah, ibu, dan anak laki-laki. Mata pencahariannya adalah sebagai Nelayan. Ayah dan anaknya selalu menangkap ikan setiap malam, hasilnya sebagian dijual dan sebagian lagi untuk dikonsumsi sekeluarga.
Setelah ayah dan anak pulang, ibu setiap pagi mengolah ikan tersebut, dimasak yang paling enak, yang paling disukai  ayah dan anak.
Setiap sarapan sang ibu senang melihat ayah dan anaknya makan dengan sangat lahap, karena itu masakan favorit mereka. Ketika ayah dan anaknya makan sang ibu berpesan, “sisakan kepala ikannya buat ibu yaa..”.
Ayah dan anak selalu menyisakan kepala ikan buat ibu, karena itulah permintaan ibu.

Suatu ketika sang ibu ulang tahun, kemudian ayah dan anak pergi melaut dengan semangat membara mencari ikan sehari semalaman suntuk, untuk mengumpulkan kepala ikan sebanyak mungkin, lalu diletakkan di dalam kotak sebagai kado ulang tahun ibu tercinta.
Ketika ibu di kamar, mereka memberikan surprise kotak kepala ikan tersebut sambil tertawa bahagia, tapi apa yang terjadi? sang ibu malah menangis deras. Ayah dan anak terkejut, “Ibu, kenapa menangis, terharu?”. Ibu menjawab, “Tahukah kalian wahai suami dan anakku tercinta, sesungguhnya Aku tidak menyukai kepala ikan, Aku lebih menyukai badan ikan (dagingnya)”. Ternyata, sang ayah dan anak mengira makanan favorite ibu adalah kepala ikan, padahal kenyataannya tidak.

#Cerita diatas adalah contoh kebanyakan orang saat ini sudah merasa sangat peduli terhadap orang lain, tapi kenyataanya mereka sama sekali tidak peduli , tidak peka terhadap setiap masalah tersebut, padahal orang terdekatnya sendiri. Ok bagaimana penyelesaiannya?  silakan tengok naluri masing-masing dan imbangi dengan logika :)

Contoh lain sebagai berikut :
Suatu hari ada seorang ibu memasak, ketika anaknya pulang sekolah dengan tas ransel dan baju seragamnya yang bau asem-asem (*baca: aceeem) keringat, lalu masuk rumah sambil berteriak, “ibuuuu!!!!!!”. Sang ibu langsung berhenti dan memeluknya sambil mendengarkan celoteh sang anak pada saat disekolahnya tadi.
Sang anak :  “Ibu, terima kasih ibu sudah peduli denganku :-* “.
Ibu  : “Apa maksudnya anakku?” (sambil kebingungan).
Sang anak : “Ibu selalu menghentikan kegiatan masak ibu, saat aku bercerita”.
Ibu : Mbrebes mili (nangis).
Contoh sederhana lainnya : Ketika kita memberi sekotak susu kepada kerabat  pagi-pagi (entah tahu darimana kalau ternyata orang yang kita beri susu memang belum sarapan).Seperti The miracle of giving. Memberi hal sepele, tapi bermakna.

#Ternyata kepedulian itu seperti itu saja, sederhana, perbuatan yang simple tapi tepat pada waktunya, tepat saat dibutuhkan.
Seperti halnya sabar, sabar itu tidak berlaku jika tidak digunakan untuk menahan amarah ketika ada suatu hal yang tidak sesuai keinginan kita. Sabarlah pada tempatnya, itulah sebenar-benarnya orang sabar. Bagaimana bisa dikatakan sabar kalau tidak ada masalah yang tidak membuatnya emosi?.

Sekian,
Semoga bermanfaat dan kita  semakin peduli juga sabar, Aamiin :)

HAFALAN SHALAT DELISA

Assalamualaikum….

  Sejak beberapa bulan lalu Aku menunggu film ini. Awalnya kukira film akan diputar pada tanggal 26 Desember 2011 untuk mengenang terjadinya Tsunami Aceh,  ternyata 22 Desember 2011 diputar tepat pada hari Ibu, “Alhamdulillah lebih cepat “ kataku.

Pada 06 April 2010 (waktu tamat baca novel Hafalan Sholat Delisa) masih terngiang konflik batin dan deru air mata akibat novel  ini.  Dari novel inilah Aku kenal Tere-Liye sebagai pengarang jempolan,top markotob,mumtaaz, jayyid jiddan, mantab yang kemudian mengantarkanku pada beberapa novel  karangannya yang lain.

  Gubahan film yang sederhana  berdurasi  2,5 jam persembahan Sony Gaukasak  yang disajikan ini ,tak kalah menariknya dengan ratusan lembar goresan pena Tere-Liye pada novelnya.
Film ini tetap menciptakan konflik batin yang sama dengan novel, membuatku menangis.

  Delisa –bocah lugu, polos, cerdas, banyak tanya, agamis, tomboy,  sederhana dan cantik –  yang diperankan oleh Chantiq Schagerl sudah “sangat pas” dengan gambaran gadis Aceh itu, kurasa tidak jauh berbeda dengan imajinasi para pembaca.

  Aktor “sangat pas” dengan karakternya (Ayah Delisa yang kuat, Ummi Delisa yang sabar, Ustadz Rahman yang hmmmm  , Kak Sofie yang cantik dan kalem, Koh Acan yang lucu, Delisa yang polos, Kak Fatimah yang dewasa) pas banget deh.Cuma menurutku, pemeran Kak Aisyah sama Kak Zahra kok seperti seumuran dengan Delisa, malah pantas jadi adiknya.

Pada saat mendengar kabar novel ini akan di filmkan terbesit dibenakku, “Bagaimana ya nanti dengan adegan tsunaminya?”
Dalam film ternyata adegannya dibuat sekelumit saja. Bencana gempa dan air bah yang bergulung-gulung yang dibubuhi animasi yang bagus lalu dilanjutkan layar  hitam beberapa detik “biiip-biiip”  berselang dengan adegan muka Delisa nyemplung air  “blebep-blebeb-blebep-blumph…” , kemudian  para korban terdampar di  batu karang.

Beberapa adegan yang membuat hati saya tersentak dan menangis adalah :

  •  Ketika Kak Aisyah menyatakan iri sama kalung D nya Delisa. Umminya bilang “Kak Aisyah jangan pernah iri dengan barang yang bukan milik kita”. #ini Kak Aisyah nangisnya bener-bener.
  •  Ketika Delisa bilang “Delisa Cinta Ummi Karena Alloh”, kalau mendengarnya dengan telinga terbuka sih biasa saja malah seperti dibuat-buat,  tapi jika disertai dengan melihat kepolosan muka Delisa kala itu. #Deuh miris neng.
  • Ayah Delisa, yang dalam hayalan membangun petak rumah Delisa yang sudah hancur setelah mendengar kabar Kematian ke-3 anaknya, “Abi bikinin rumah baru buat Delisa, ini kamar Ummi,ini kamar Delisa  disini pintunya nanti Delisa tidur sama Abi” setelah itu menemukan foto Ummi yang masih tersisa diantara reruntuhan. #Sambil nyinyir ke Delisa disertai backsound “Lagu Ibu”, hiks,huhu,fufu,huaaaa.
  • “Delisa benci, kenapa semua orang ninggalin Delisa!” #pas setelah main bola.
  • Delisa ujian Sholat dengan khusuk sebelum terjadinya tsunami, sampai Delisa diterjang tsunami.
  • Delisa bilang “Kaki Delisa satunya mana?” dan dijawab sendiri “Kaki delisa terbawa air”.#Setelah kaki Delisa diamputasi.
  • Delisa membagi-bagi coklat kiriman dari Kak sofie – Relawan yang merawat Delisa ketika menjadi korban Tsunami – “Ini buat ustadz Rahman, Ini buat Ayah, Ini buat Koh Acan dst”.
  • Delisa bilang “Delisa tidak mau hadiah apa-apa , Delisa Cuma ingin Sholat dengan benar dan ikhlas” #Setelah Tsunami, Ayah Delisa menawarkan hadiah jika Delisa lulus ujian Sholat kali kedua.
  • Delisa Sholat dengan lancar ketika diuji ustadz Rahman, di lapangan terbuka. #Ending the movie

  Dan beberapa adegan lagi dengan backsound Ala Aceh yang syahdu (pengen ke Aceh, kalau ke Mekkah belum bisa. Ya, kita ke serambinya dulu yuk, Aamiin).

Pesan moral yang Ku tangkap dari film ini sebagai berikut :

  1. Pelajaran Sholat dari kecil adalah sangat penting , kewajiban orang tua memberikan trigger karena ini termasuk pelajaran yang tidak mudah jika tidak terbiasa sejak kecil, apalagi diajarkan pada anak yang masih kecil.
  2. Belajar ikhlas dalam beribadah.
  3. Jadilah Ibu yang sabar, ayah yang kuat dan sayang keluarga.
  4. Tidak boleh iri sama siapapun, apalagi sama saudara sendiri.
  5.  Sabar terhadap musibah dari Alloh.Belajarlah memasak meskipun laki-laki, kayak Koh Acan gitu, ga kayak Ayah Delisa.
  6.  Dan jangan jadi anak nakal kayak Umam (teman Delisa yang ja’il ) :D

  Film ini sudah membuat mata bengap, jilbab basah (ga bawa tisu) dan jadi ga doyan Popcorn untuk pertama kalinya.

  Buat yang belum nonton dan ingin cuci mata (nangis).Ayo, buruan tonton filmnya disini ya.Ini bukan sekedar tontonan tetapi juga sebagai tuntunan.

http://21cineplex.com/video/trailer/hafalan-shalat-delisa,2691.htm

  Terakhir, terima kasih Oom Tere-Liye dan Crew film Hafalan Sholat Delisa (semoga diberi kesehatan sekeluarga agar bisa terus berkarya yang berbobot), ditunggu film-film dari novel-novel yang lain. #Berharap novel  “Moga Bunda Disayang Alloh” dan “Bidadari-Bidadari Surga” difilmkan ju.
Terima kasih buat temanku Dini informasi quiznya, nanti kalungnya buat Dini #Kalau menang yaa, Aamiin.

Terima kasih commentnya ;)